TOTALITAS ISLAM

menuju.jpg

Identitas Buku

Judul terjemahan         : Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam

Judul Asli                       : Nahwa Wahdah Fikriyyah lil ‘Amilin lil Islam

Penulis                           : Dr. Yusuf Qardhawi

Penerbit Asli                 : Maktabah Wahbah, Kairo, Mesir

Penerbit terjemahan    : Robbani Press

Penerjemah                    : A. Najiyullah

Penyunting                     : Sunmanjaya R.

Jumlah halaman               : 233

Dari Dustur Ilahi

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyuruh kepada kebaikan, menyuruh

kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (Q.S. Ali Imran:104-105)

Mukadimah

Ba’da tahmid wa shalawat.

Buku ini adalh hasil ijtihad Dr.Yusuf Qardhawi untuk menanggapi polemik antara Al Ustadz Al Khuli dan Al Ustadz Abdul Aziz Kamil tentang risalah At Ta’lim Al Fahm (Dua puluh prinsip) Hasan Al Bannna. Al Bahli Al Khuli berpendapat hendaknya setiap orang tidak berhak mensyarah warisan Al Banna dan mengomentarinya. Jika tidak demikian, setiap orang akan menafsirkannya semaunya karena risalah-risalah Al Banna merupakan manhaj resminya Ikhwanul Muslimin. Sedangkan Abdul Aziz Kamil berpendapat bahwa pemikiran seperti itu akan mewajibkan kediktatoran fikrah terhadap jamaah dan para ulamanya. Hal ini akan membelenggu dinamika berfikir dalam jamaah serta memberikan otoritas kepausan bagi sebagian putra-putra jamaah terhadap sebagian yang lain.

DUA PULUH PRINSIP

Imam Hasan Al Banna berkata:”Wahai saudara-saudara yang jujur. Rukun Bai’at kita da sepuluh. Hafalkanlah: Faham, Ikhlas, ‘amal, Jihad, Tadhliyah, Tha’at, Tsabat, Tajarrud, Ukhuwah dan Tsiqoh.”

“Wahai Saudaraku yang jujur. Yang dimaksud dengan faham ialah anda meyakini bahwa fikroh kami adalah Islam Murni, dan Anda memahami Islam seperti yang kami fahami dalam batas Dua Puluh Prinsip” yang secara singkat sebagi berikut:

1. Islam adalah sebuah sistem universal yang lengkap mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan. Islam adalah negara, bangsa dan tanah air, pemerintahan dan rakyat. Islam adalah akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan. Islam adalah kultur dan perundang-undangan, sains dan hukum. Islam adalah materi, usaha dan kekayaan. Islam adalah jihad dan da’wah, tentara dan ideologi. Sebagaimana Islam adalah aqidah yang murni, dan sekaligus ibadah yang benar.

2. Al Quran dan As-Sunnah adalah referensi setiap muslim dalam mengambil hukum-hukum Islam. Al Quran mestilah difahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa dibuat-buat dan serampangan. Sedangkan memahami As-Sunnah harus kembali kepada rijal hadist yang terpercaya.

3. Iman yang tulus, ibadah yang benar dan mujahadah itu bercahaya, serta mempunyai rasa manis yang Allah percikkan ke dalam kalbu siap saja dari hambanya yang dikehendaki-Nya. Tetapi ilham, obsesi, kasyfu dan mimpi tidaklah termasuk dalil hukum syar’i, tidak termasuk dalam hitungan, kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

4. Jimat, mantra, makam keramat, ramalan, perdukunan, mengaku tahu yang gaib, dan yang sejenisnya adalah suatu kemunkaran yang harus diperangi, kecuali yang berasal dari Ayat Al Quran atau doa yang ma’tsur.

5. Pendapat Imam dan wakilnya mengenai sesuatu yang tidak ada nashnya dan mengenai sesuatu yang mungkin banyak pendapat dalam “mashalih mursalah” adalah bisa diamalkan selama tidak bertentangan dengn aqidah syari’yyah. Hal itu kadang-kadang berubah sesuai situasi, kondisi, adat, dan tradisi. Prinsip dasar dari ibadah adalah ta’abbud tanpa melirik kepada ma’na. Sementara prinsip dasar dalam tradisi adalah melihat kepada rahasia, hikmah, dan tujuan.

6. Pendapat seseorang boleh saja diikuti atau juga ditinggalkan, kecuali Rasulullah saw, karena hanya Rasulullahlah manusia yang ma’shum. Segala apa yang datang dari salafus salih yang sesuai dengan al Quran dan As Sunnah kita terima. Jika tidak, maka Al Quran dan As Sunnah lebih diprioritaskan untuk diikuti. Tetapi kita tidak boleh menyerang pribadi-pribadi–dalam masalah khilafiah seraya mengutuk atau melukai- kembalikanlah semua itu kepada niatnya masing-masing, karena betapapun mereka telah mengemukakan pandangannya.

7. Setiap muslim yang belum mencapai tingkatan mujtahid dalam melihat dalil-dalil hukum far’i bolehlah ia merngikuti salah satu imam agama, dan akan lebih baik baginya disamping mengikuti, berijtihad sejauh kemampuan yang ada dalam menggali dalil-dalilnya, dan hendaklah ia menerima segala petunjuk yang disertai dengan dalil, selama hal itu benar menurutnya demi kebaikan dan kemampuan yang ditunjukinya itu. Begitupun juga hendaknya ia menyempurnakan kekurangan ilmiahnya jika ia termasuk ahli ilmu sampai ia mencapai tingkatan mujtahid.

8. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’(fiqih) tidaklah dijadikan sebab perpecahan dalam agama. Setiap mujtahid itu mendapatkan balasannya. Boleh-boleh saja melakukan penelitian ilmiah yang murni dalam masalah-masalah khilafiah itu atas dasar cinta karena Allah dan kerjasama untuk mencapai kebenaran, tanpa mengacu kepada perdebatan terkutuk dan fanatik.

9. Melibatkan diri ke dalam masalah yang ada padanya tidak ada peluang untuk mengamalkannya adalah sesuatu yang sia-sia, yang secar syar’i kita dilarang. Misalkan, banyak memecah-mecah cabang hukum yang tidak realistis, mengutak-atik ayat Al Quran yang sains belum mampu mencapainya. Termasuk dalam hal ini memperbandingkan kualitas pribadi diantara para sahabat ra berikut perseliihan diantara mereka. Sebab, masing-masing mereka mempunyai keutamaan dan balasan niat baiknya.

10. Mengimani, mengesakan, dan menyucikan Allah SWT merupakan peringkat aqidah Islam yang peling luhur. Ayat-ayat dan hadist sahih mengenai sifat-sifatnya dengan segala mutasyabihat(yang tidak jelas kepastian pengertiannya) kita yakini sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan tha’til. Kita pun tidak mengemukakan perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai sifat-sifat itu. Kita hanya memahaminya sejauh apa yang dipahami oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat,. Semua itu dari sisi Rabb Kami.”(QS Ali Imran:7)

11. Segala bentuk bid’ah yang dilakukan oleh manusia atas dorongan hawa nafsunya dalam masalah agama, baik dengan cara menambah atau menguranginya, adalah kesesatan yang harus diperangi sampai ke akar-akarnya .

12. Bidah idhofiyah (menambah amalan dari kadar yang ditetapkan oleh syara’), bid’ah tarkiyah (menguranginya) dan bid’ah iltizam (membiasakan diri melakukan suatu bentuk ibadah tertentu yang tidak dicontohkan Rasulullah) dalam hal peribadatan mutlak diperselisihkan para ulama. Masing-masing ada pendapat dan alasan mengenainya sendiri-sendiri. Boleh saja dilacak kebenarannya berdasarkan dalil dan bukti.

13. Mencintai orang-orang shalih, menghormati mereka, menyanjung mereka atas dasar amal baiknya yang telah diketahui karena mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang dimaksudkan dengn para wali itu adalah mereka yang disebutkan dalm Al Quran QS 10, Yunus:63)

“ Orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa

Adapun keyakinan bahwa mereka diridhai Allah., mereka tidak memiliki kekuatan apapun yang dapat mendatangkn manfaat dan tidak pula mudharat, baik ketika mereka hidup maupun setelah mereka mati.

14. Ziarah kubur, bagaimanapun adalah sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang ma’tsur (berdasarkan sunnah rasul). Tetapi meminta-minta kepada ahli kubur, memanggil-mangil mereka bernadzar demi mereka adalah bid’ah besar yang harus dikikis habis. Demikian pula membangun, menembok, dan mengatapi kuburan atu meneranginya, bersumpah kepada yang selain Allah adalah dosa besar yang harus diperangi. Adapun memintakan ampunan bagi yang mati, tidak termasuk dalam masalah ini. Kita tidak menta’wil demi untuk pencegahan preventif.

15. Berdoa kepada Allah apabila dibarengi dengan tawassul kepada salah seorang hambanya adalah masalah khilafiah (boleh atau tidaknya). Dan ini tidak termasuik dalam masalah Aqidah.

16. Tradisi yang keliru itu tidak merubah hakikat lafadz syar’i bahkan harus dikukuhkan dalam batas-batas ma’na maksudnya dan berhenti sampai disitu.

17. Aqidah adalah fondasi amal. Amaliah kalbu lebih penting daripada amal fisik. Berusaha mencapai kesempurnaan dalam masing-masing amaliah tersebut secar syar’i adalah dituntut, meskipun tuntutannya berbeda.

18. Islam memberikan kebebasan dan mendorong akal untuk memandang alam semesta, mengangkat derajat ilmu dan ulama, ramah terhadap semua orang yang menyumbangkan kebaikan dan kemanfaatan. Hikmah itu adalah milik orang mukmin. Dimana saja ia menemuinya, dalah yang paling berhak megambilnya”

19. Masing-masing dari pandangan syar’i dan rasio kadang-kadang mencakup apa yang tidak masuk dalam wilayah yang lain. Tetapi kedua-duanya tidak bertentangan dalam hal-hal yang sudah pasti (qath’i). Oleh sebab itu, tidak akan bertabrakan antara hakekat ilmiah yang benar dengan kaidah syar’i yang baku. Yang dzonny dari keduanya bisa dita’wilkan agar cocok dengn yang qath’i. Dengan demikian, apabila kedua-duanya dzonny, maka pandangn syar’i lebih berhak untuk diikuti sampai dengan pandangan rasio itu mantap atau runtuh.

20. Kita tidak boleh mengkafirkan seorang muslim yang mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat, mengamalkan segala konsekuensi logisnya, dan menjalankan segala kewajiban yang telah ditentukan padanya, sekalipin ia masih suka mengerjakan kemaksiatan. Kecuali apabila ia menyatakan diri kafir atau mengingkari sesuatu yang sudah dipastikan oleh agama. Atau mendustakan ayat-ayat Al Quran dan menafsirkan dengan cara yang tidak sesuai dengn uslub Bahasa Arab atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dapat diinterpretasikan selain kafir.

Apabila seorang muslim mengetahui agamanya dalam 20 prinsip ini, maka ia telah mengeanal arti slogannya yang selalu dikumandangkan”Al Quran dustur kami, dan Rasul saw teladan kami. ( Hasan Al Banna)

MENGAPA HASAN AL BANNA MENDAHULUKAN AL-FAHM

Menurut kita, umat islam, ilmu itu mendahului amal, bahkan ilmu itu adalah petunjuk iman dan jalan aqidah yang benar. Imam Ghazali dan para sufi besar lain berpendapat mukadimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi dan orang-orang yang benar itu tidak akan tercapai kecuali diramu dengn tiga dimensi yang tersusun rapi, yaitu ilmu, perilaku dan almal. Ilmu akan mewariskan perilaku, dan perilaku akn mendorong amal. Hal ini mirip dengan pendapat para ahli psikologi tentang persepsi, emosi, dan kecenderungn. Manusia mengenal dan berpersepsi, kemudian terpengarauh dan terkesan, baik suka atau pun tak suka, kemudian berkecenderungan dan berkeinginan baik positif maupun negatif.

Urutan tersebut sangat jelas di dalam Al Quran

Dan bahwa orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang haq dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya”(QS 22, Al Hajj:54)

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan bagi orang-orang orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan(QS 47, Muhammad:19)

Imam Bukhari di dalam Kitab Ilmu berkata :”Bab ilmu sebelum ucapan dan Amal berdasarkan firman Allah.”Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah melainkan Allah.”

Bab pertama dari 40 bab dalam kitab Ihya Ulumuddin adalah bab Ilmu. Rintangan pertama yang harus disingkirkan oleh seseorang yang sedang menelusuri jalan menuju Allah adalah rintangan ilmu, sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhaj Al Abidin karya Ghozali pula.

Imam Hasan Al Basri berkata:” Seseorang yang beramal tanpa ilmu, yang dirusak lebih banyak daripada yang diperbaikinya. Maka, tuntutlah ilmu dengan cara yang tidak merusak ibadah. Dan tuntutlah ibadah dengan cara yang tidak merusak ilmu. Sebab ada suatu kaum yang menuntut ibadah tetapi meninggalkan ilmu, sehingga mereka keluar membawa pedang membantai umat Muhammad saw. Seandainya mereka menuntut ilmu, niscaya tidak akan melakukan tindakan tersebut.Yang dimaksud dengan mereka itu adalah Kaum Khawarij.

“Diantara kalian ada yang membutuhkan sholatnya kepada sholat mereka, puasanya kepada puasa mereka, dan bacaannya kepada bacaan mereka. Tetapi bencana mereka, bahwa mereka membca Al Quran tidak melebihi kerongkongan mereka”

Artinya bahwa mereka tidak mendalami pemahaman Al Quran, sehingga sampai kepada titik bahwa mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Oleh karena itu, harus berilmu sebelum beramal. Sebagaimana Muadz berkata: ”Ilmu adalah imamnya amal, dan amal adalah pengikut ilmu.”

Rasulullah bersabda: ”Keutamaan orang alim terhadap tukang ibadah bagaikan keutamaanku terhadap orang yang paling rendah dari kalian.”

Sebagian salaf berkata:”Kebutuhan seseorang kepada ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum.”

Kebutuhan manusia muslim kepada ilmu terscermin pada hal-hal berikut:

a. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara keyakinan yang haq dan yang bathil, antara fikrah yang benar dan yang keliru, melalui sebuah prinsip dan patokan yang dibuatnya untuk meluruskan pemahaman dan penggunaan dalil.

b. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara yang disyariatkan dengan yang tidak disyariatkan. Yakni membedakan antara yang halal dan yang haram, dalam segala hal dan tingkah laku; antara yang sunnah dan yang bid’ah dalam mendekatkan diri kepada Allah, antara yang baik dan yang buruk, dalam akhlak dan perilaku.

c. Ilmu merupkan satu-satunya sarana untuk membedakan tingkatan-tingkatan amal dan kewajiban syariat secara benar.

d. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk menghukum secara adil pribadi-pribadi dan jamaah, mengevaluasi sikap dan kasus secar benar yang jauh dari kedzaliman dan hawa nafsu, kedan terhindar dari ifrath (berlebihan) dan tafrith (berkurang)

Mengapa Hasan Al Banna mengungkapkan al fahm sebagi ganti al-ilm

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan ilmu dengan kata al-fahm karena faham merupakan tujuan ilmu.

Allah SWT berfirman :

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu menjaga dirinya”(QS 9, Attaubah:122)

Rasulullah saw bersabda:

Siapa saja dikehendaki Allah menjadi baik, niscaya difahamkan-Nya ia tentang agama.”(HR Mutafaqquh Alih)

Al Fiqhu (faham) lebih khusus daripada Al Ilmu (tahu). Al Fiqhu artinya faham, bahkan faham yang mendalam, ysng menembus sampai intinya, tidak cukup hanya sampai di kulitnya fahamlah yang menandai yang menerangi akal dan menghidupkan kalbu.

Faham yang Benar Merupakan Ni’mat yang terbesar

Al’Allamah Ibnul Qayim ketika menjelaskan kitab Umar Fil Qadha mengatakan faham yang benar dan tujuan yang baik adalah ni’mat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, bahkan tak ada pemberian, setelah Islam yang lebih besar dan lebih agung daripada kedua ni’mat tersebut; keduanya adalah pembawa dan penegak Islam. Dengan keduanya lah seorang hamba selamat dari jalan orang-orang yang dimurkai Allah, yang rusak motivasinya, selamat pula dari jalan orang-orang yang keliru pemahamannya. Sehingga ia menjadi orang yang mendapatkan ni’mat serta memiliki pamahaman dan motivasi yang baik. Mereka berada di atas jalan yang lurus, jalan yang kita diperintahkan untuk berdoa kepadanya Pada setiap kesempatan shalat, agar ditunjuki kepada jalan yang mereka itu . Faham yang benar merupakan cahaya yang dimasukkan Allah ke dalam qolbu hambaNya, yang bisa membedakan antara yang baik dan yang rusak, haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, samar dan jelas. Memberinya pula niat yang baik, konsisten dalam kebenaran, bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai. Diputuskannya pula terhadap sikap mengikuti hawa nafsu, mementingkan dunia, mencari sanjungan orang, dan meninggalkan taqwa.

Ali ra, beliau ditanya: “Adakah Rasulullah saw mengkhususkan sesuatu kepada kalian?”Ali menjawab: ”Tidak, selain faham yang diberikan kepada seorang hamba tentang kitab Allah dan apa yang ada dalam lembaran ini…” Ia mengeluarkan sebuah lembaran yang di dalam nya tedapat beberapa hukum.

Mengapa Kita Perlu Menguaraikan Dua Puluh Prinsip Tersebbut?

Yang bisa kita tafsirkan, bukan hanya Al Quran dan Hadist, tapi juga buku-buku karangan manusia biasa yang tidak ma’shum, yang ditulis syarahnya.

Jadi bukanlah sesuatu yang aneh, membuat syarah dua puluh prinsip karya Hasan Al Banna. Agar ia menjadi landasan bagi kesatuan faham dari berbagai kalangan para aktivis Islam. Diupayakan agar syarah ini demikian singkat, dan sangat terfokus, agar mudah dicerna dan dihafal. Dua puluh prinsip itu lebih mirip dengan buku-buku matan dalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu Islam lainnya . Buku-buku matan selamanya membutuhkan syarah yang menjabarkan segala isinya, menyempurnakan yang masih perlu penjabaran dan dicarikan dalilnya mengenai berbagai hukum dan masalahnya.

Untuk Siapa Hasan Al Banna Menguaraikan Dua Puluh Prinsip Tersebut?

1. Para aktivis atau mujahidin dari jamaah Ikhwanul Muslimin

2. Jamaah dan organisasi-organisasi sosial keagamaan yng ada di Mesir pada saat Hasan Al Banna menulis dua puluh prinsip tersebut.

Perhatian Hasan Al Banna ketika menulis dua puluh prinsip tersebut terfokus pada organisasi-organisasi sosial keagamaan yang antara satu dengan yang lainnya saling berseteru. Fikrah dan hati Hasan Al Banna disibukkan oleh upaya menyatukan umat yang telah berpecah belah oleh berbagai perbedaan dari segala sudut. Oleh karena itu, adalah penting menyatukan front intern Islam dengan segala sarana yang memungkinkan. Ketika didirikan sebuah sebuah persatuan untuk berbagai organisasi kaeagamaan di Mesir, atau ketika kesatuan itu akan didrikan, tampillah Hasan Al Banna dengan dua puluh prinsip tersebut agar menjadi poros tempat bertemunya berbagai organisasi-organisasi itu.

Diantara keistimewaan dua puluh Prinsip Tersebut

1. Dua puluh prinsip tersebut pada umumnya mengarah kepada masalah-masalah yang mempunyai banyak perbedaan pendapat diantara berbagai aliran keagamaan.

2. Dua puluh prinsip itu disusun dengan penuh bijaksana dan moderat, sehingga para ahli pikir dari pengikut berbagai aliran itu bisa bertemu, kendatipun sedikit saja terpenuhi syarat faham, ikhlas, dan toleransi.

3. Dalam prinsip-prinsip itu, beliau lebih berorientasi pada penekanan dan singkat, tidak luas dan detail. Memperluas dan melakukan rincian dalam masalah ini akan memberikan peluang yang lebih besar untuk berbeda, banyak pendapat yang antara yang satu dengan lainnya saling bertabrakan dan berlawanan pula dengan yang dimaksud.

4. Prinsip-prinsip itu tidak banyak diarahkan kepada orang-orang sekuler dan mereka yang berpendidikan barat.

Visi Penghimpunan dan Pemaduan

Pembentukan pemikiran dan jiwa Hasan Al Banna mengarah kepada konstruktif, bukan destruktif, kepada persatuan, bukan perpecahan. Hasan Al Banna ingin menyatukan umat di atas tujuan yang besar, menghimpun barisannya betapapun perbedaan visi dan orientasi untuk menghadapi kekuatan yang secara terang-teranngan memerangi Islam dan secara sembunyi-sembunyi menghadangnya. Bukan rahasia lagi bagi yang mau meneliti, bahwasanya banyak kendala yang menghalangi jalannya persatuan yang dicita-citakan itu. Sebab, persatuan itu menuntut kesepakatan tentang tujuan dan alfabetanya. Kemudian kesepakatan tentang sarana yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dan juga tentang kesepakatan tentang qiyadah (kepemimpinan) dan percaya kepada keikhlasan, kecakapan, dan kemampuan qiyadahnya tersebut dalam hal menggunakan sarana untuk mewujudkan tujuan.

Penulis melihat bahwa menyatukan semua pergerakan dalam sebuah jamaah adalah sebuah mimpi yang sulit diwujudkan. Tidak perlu menyatukan semua jamaah Islamiyah dan dilebur menjadi satu. Cukup didekatkan antara satu dengan lainnya, hendaklah aktif bekerja agar ada sedikit koordinasi, tafahum dan kerjasama antar jamaah. Sehingga yang satu menyempurnakan yang lain, dan bersatu menjadi sebuah front dalam menghadapi masalah-masalah yang besar bagaikan sebuah bangunan yang kokoh. Dengan demikian, maka perbedaan itu akan merupakan perbedaan bentuk saja bukan perbedaan yang saling berlawanan dan konflik.

PRINSIP PERTAMA: ISLAM ADALAH SEBUAH SYSTEM HIDUP YANG LENGKAP

Barangkali, sumber perselisihan itu adalah tidak adanya mizan(tolok ukur) yang menjadi rujukan dan tidak adanya batasan sumber yang dijadikan referensi hukum atau berkebihan dalam menilai beberapa persoalan dan menhgorbankan persolalan-persoalan yang lain. Dapat juga karena tidak teliti dalam mengungkapkan masalah-masalah yang mengandung dua atau banyak pendapat.

Sikap organisasi-organisasi sosial Keagamaan di Mesir ketika da’wah Hasan Al Banna muncul

Semua organisasi keagamaan ini masing-masing mempunyai kelemahan. Masing-masing mempunyai perhatian satu aspek tertentu saja dari risalah Islam, menitik beratkan kepada yang satu dengan meninggalkan aspek aspek lainnya atau tidak memasukkan dalam hitungan. Barangkali ada diantara jamaah-jamaah tersebut yang menganggap jelek orang-orang yang sibuk memperhatikan dan menekankan aspek-aspek lainnya itu.

Sikap-sikap partai politik

Secara umum partai-partai politik ini berorientasi patriotisme-sekulerisme. Mereka berfikir bahwa “Islam“ hanyalah ketuhanan belaka, yang tidak ada hubungannya dengan negara, politik, dan hukum. Mereka juga berfikir bahwa agama dan sains adalah dua jalan berbeda yang tidak mempunyai titik temu. Menurut mereka bangsa yang ingin maju harus mengutamakan sains dan meninggalkan agama yang jauh dari hadapamya.

MENGHAPUSKAN PARSIALISASI DA’WAH ISLAM

Mengapa Hasan Al Banna Mengangkat Totalitas Islam

1) Totalitas Islam

Islam yang disyariatkan Allah tak membiarkan satupun dari aspek kehidupan. Islam adalah universal, mencakup segala aspek hidup dan kehidupan: material dan spiritual, personal dan sosial.

Firman Allah (Q.S. 16:89)

2) Islam menolak parsialisasi hukum dan ajaran-ajarannya.

Al Qur’an mengingkari parsialisasai serupa yang telah ditempuh Israel.

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan dalam kehidupan dunia, sedang pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Q.S. 2:85)

2) Kehidupan adalah satu kesatuan yang tak terpisah-pisah

Kehidupan tak mungkin harmonis jika Islam hanya mendominasi sebagian saja dari keseluruhan aspek kehidupan itu. Misalnya Islam hanya mengurusi masjid saja, sedang yang lainnya diserahkan kepada madzhab-madzhab buatan manusia, pemikiran-pemikiran manusia, dan filsafat sekuler untuk mengatur dan mengurusinya. Manusia adalah ruh dan fisik, tak dapat dipisahkan, demikian pula kehidupan.

(Firman Allah Q.S. Al-Maidah:50)

Aspek-aspek fundamental Ajaran Islam yang menyeluruh

  1. Aqidah yang murni dan ibadah yang benar
  2. Aspek politik (Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan ummat)
  3. Aspek akhlak (Ialam adalah akhlaq dan power, atau kasih saying dan keadilan)
  4. Aspek kebudayaan, peradaban, ilmu
  5. Aspek hukum dan perundang-undangan (kebudayaandan perundang-undangan atau ilmu dan hukum)
  6. Aspek ekonomi (materi dan harta benda, atau usaha dan kekayaan)


  1.  

    Jihad dan da’wah atau militer dan ideologi

     

    Aspek jihad

  2. Aspek da’wah

Kedudukan Negara dalam Islam

a. Dalil dari teks-teks agama Islam

1) Q.S 4:58-59

2) Hadist:

Apabila amanat dihilangkan maka tunggulah saat kehancuran.”Seseorang bertanya:” Bagaimana hilangnya amanat itu?” Rasulullah menjawab:”Apabila suatu persoalan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

b. Dalil dari sejarah Islam

Madinah dalah sebuah negara Islam dan merupakan basis Negara Islam baru, yang dipimpin oleh Rasulullah, panglima dan imam umat Islam, sebagaimana beliau juga Nabi mereka dan utusan Allah pada mereka. Tak ada seorang pun yang menedominasi mereka di negara itu kecuali dominasi syar’iyyah.

c. Dalil dari tabiat Islam

Karakteristik Islam sebagai sebuah manhaj (system) yang diingingkan agar dominan, memimpin, dan mengarahkan kehidupan, memerintah masyarakat, mengendalikan perjalanan umat manusia sesuai dengan perintah-perintah Allah, tidaklah cukup hanya dengan pidato. Tidak pula cukup hanya membiarkan hukum dan ajaran-ajarannya dalam berbagai aspek kehidupan berada dalam nurani pribadi-pribadi saja. Sebab jika nurani itu telah sakit atau mati, maka akan sakit pulalah segala hukum dan ajaran tersebut. Ustman bin Affan ra berkata:” Allah pasti akan mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan Al Quran”

Kita memerlukan Negara yang mengasuh Islam

Kita membutuhkan negara Islam yang menjadikan risalah Islam sebagai aqidah, sistem kehidupan, dan peradaban. Segala aspek kehidupan material dan spiritual, semuanya ditegakkan berlandaskan Islam yang menyeluruh tersebut. Negara ini merupakan kebutuhan Islam dan sekaligus kebutuhan umat manusia. Sebab negara tersebut akan mempersembahkan teladan bagi umat manusia tentang keterpaduan antar agama dan dunia, material dan spiritual, keharmonisan antarkemajuan peradaban dan keluhuran moral.

Seandainya kita punya pemerintahan

“Jika umat Islam memiliki sebuah penerimaan yang benar, islami dan imani, mandiri dalam berpikir dan bertindak, mengerti akan keagungan warisan budaya dan sistem Islam yang diwarisinya, yakin akan keampuhan Islam dalam mengatasi problema umatnya dan merupakan petunjuk bagi seluruh ummat manusia, niscaya kita akan menuntut agar dunia mendukungnya atas nama Islam. Menuntut negara-negara lain untuk mempelajari dan mengnalisa ajaran Islam dengan da’wah, pengajaran, dalil-dalil dan utusan yang silih berganti dan cara da’wah lainnya, sehingg anegara kita menjadi pusat spiritual, politik, dan praktek pemerinthan yan adil. Kita yakin bahwa pemerintahan Islam mampu memperbaharui kehidupan bangsanya, memimpin mereka menuju kejayaan dunia seta mengibarkan semangat perjuangan kesungguhan bekerja.

Islam dan politik

Dua masalah penting

1. Adanya perbedaan mencolok antar partai dan politik

Ada politikus tapi tak berhubungan dengan partai, ada juga prang partai yang tak tahu politik. Adakalanya orang partai adalah politikus dan sebaliknya. Padahal yang dimaksud politik adalah politik secara umum yang berarti memperhatikan keadaan umat, baik internal maupun eksternal, sama sekali tidak terikat oleh satu partai politik.

2. Non Muslim menyerang Islam karena mereka tidak mengetahui hakekat Islam

Mereka mengatakan:”Islam berada dalam satu kutub, sementara masyrakat, hukum, masalah-masalah ekonomi dan peradaban berada pada kutub yang lain. Islam harus dicabut dari serabut akar politik.” Padahal sebenarnya Islam adalah aqidah dan ibadah, negara dan kebangsaan, toleransi dan power, akhlaq dan materi, kebudayaan dan perundang-undangan. Seorang muslim dengan status keislamannya dituntut untuk mempedulikan segala persolan umatnya. Karena siapa saja yang mengaku muslim sedang ia tak mau peduli akan urusan Islam, tak termasuk golongan mereka.

Tanah air dan patriotisme

Dasar nasionalisme umat Islam adalah adalah Aqidah Islam yang ditolak para da’i Islam adalah fanatisme rasial yang sempit dan berlebihan dalam patriotisme sampai menggantikan agama, sehingga tanah air telah menjadi berhala yang disembah.

Batas-batas nasionalisme kita

Setiap jengkal tanah dimana terdapat muslim yang bersemboyan Laailaahaillallah Muhammad Raasulullah adalah tanah air yang harus dicintai dan diperjuangkan

Tujuan Nasionalisme Kita

Yang menjadi tujuan Nasionalisme kita adalah mengharap ridha Allah semata, membahagiakan dunia ini dengan Agamanya dan menegakkan perintahNya.

Persatuan dan Perbedaan Agama

Islam adalah agama persatuan dan persamaan, telah menjamin keutuhanm ikatan pemersatu antar semua, selam amereka sama-sama bersanding bahu-membahu, bekerja untuk kebajikan. Firman Allah QS 60:8

Nasionalisme Mesir Menurut Hasan Al Banna

“Nasionalisme Mesir memiliki kedudkukan yang layak dalam dakwah dakwah kami untuk dibela dan diperjuangkan.

Ummat dalam Pandangan Islam

Islam adalah Negara dan Tanah Air, juga pemerintahan dan Ummat. Islam dilahirkan di Jazirah Arab yang tegak di atas landasan landasan sistem kabilah dan fanatisme kabilah. Setelah Islam datang, mereka dipindahkan dari kerangkeng kekabilahan yang sempit ke arena umat yang luas.

Islam menginginkan agar kaum muslimin berafiliasi kepada kebenaran, bukan kepada si A atau si B. Oleh karena itu, ummat yang akan ditegakkan Islam tidak berdasarkan ikatan rasial, warna kulit, daerah dan kasta tapi ummat aqidah dan ummat risalah. Firman Allah:Q.S. 22:78

Sifat-s Sifat fundamental ummat menurut Al Qur’an

1. Rabbbaniyyah

Ia adalah ummat yang ditumbuhkan oleh wahyu Ilahi, dididik oleh ajaran dan Hukum-hukumya, sampai agamaNya sempurna dan ni’mat Allah kepadanya menjadi lengkap. Firman Allah: QS Al Maidah:3, Al Baqarah:143, Ali Imran:110.

2. Washathiyah

Washathiyah adalah keseimbangan dan moderasi yang memebuat jati dirinya menjadi ummat yang berperan sebagai saksi dan mahaguru bagi ummat manusia. Firman Allah Q.S. 2:143.

3. Da’wah

Umat Islam adalah umat yang beramar ma’ruf nahi munkar yang disertai dengan Iman kepada Allah SWT sehingga membuatnya unggul di atas ummat lainnya. Firman Allah 3:110,3:104.

4. Wahdah

Islam menginginkan ummat ini menjadi ummat yang satu meskipun terdapat banyak perbedaan. Firman Allah Q.S. 21:92, Al Mu’minun:52, 6:53,3:103,3:105, 49:10

DUA CATATAN PENTING SEKITAR TOTALITAS ISLAM

1. Totalitas dan unsur-unsur sektoral

Totalitas Islam yang mencakup syari’ah, akhlaq, etika, perundangan-undangan, muamalah, sistem peradaban dll tidak berarti bahwa Islam telah merinci dengan tuntas segala persoalan sampai yang sekecil-kecilnya. Perhatian Islam hanyalah kepada hal-hal yang umum dan prinsipil, kaidah-kaidah dasar, dan hukum-hukum yang tepat tentang segala masalah yang bersifat baku, meskipun zaman, linhkungan dan kondisinya berbeda.

5. Totalitas Bukan Berarti Meremehkan tingkatan-tingkatan amal

Totalitas Islam yang mencakup Aqidah, ibadah, akhlaq, etika, muamalah dan segala macam sistem sosial kemasyarakatan bukanlah berarti bahwa semua aspek tersebut berada pada satu tingkatan. Justru dalam Islam tingkatannya berbeda-beda, ada yang masuk kategori ushul (pokok), furu’(cabang), rukun, pelengkap, fardhu, sunnat, qath’i (pasti), zhonni (tidak pasti), mutlaq ‘alaih (sudah disepakati), mukhtalaffih (masih diperselisihkan), kebutuhan pokok, kurang penting, sangat penting dan ada pula yang bersifat pelengkap sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli ushul fiqh.

Ditulis dalam dakwah. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: