Strategi Setan Menjerumuskan Manusia

Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui Visi dan Misi setan.
Visi setan adalah memperbudak manusia dan Misi setan mengkondisikan manusia lupa kepada Alah SWT.

Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :

1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan kebaikan atau amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit dalam pikiran kita, “Nanti lima menit lagi”. Ini adalah waswasah. Kenyataannya bukan lima menit tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh terlambat bahkan tidak sholat.
2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat biasanya terlihat indah, Misalnya, mengapa orang yang berpacaran lebih mesra daripada suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan sehingga terasa lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.
3.Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Pernahkan terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat tidur? Namun pada jam tiga saat wekwr berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya lalu meneruskan tidur.
Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada sat maksiat ada di depan mata, kita tetap saja melakukannya. Ironisnya ini berlangsung berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.
4. A’dawah
A’dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar menumbuhkan permusuhan di anatara manusia. Biasanya permusuhan berawal dari prasangka buruk. Supaya manusia bermusuhan, setan biasanya menumbuhkan prasangka buruk.Karena itu waspadai kalau kita berprasangka buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi setan.
5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena menginfakkan sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis taklim? Kalau kita pernah merasakannya, inilah strategi takhwif.

6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas saat mau melakukan sholat, atau mengantuk saat membacaAl Qur’an meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala shaddun dari setan.
7. Wa’dun
Wa’dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya manusia mempercayainya. Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan dirinya pada sang pacar karena dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia tidak mau bertanggung jawab. Inilah contoh wa’dun atau janji palsu dari setan.
8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti saja mengerjakannya krn waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya kita mengerjakan asal-asalan dan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal atau ada kemunginan pada waktu yang ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi ini disebut kaidun.
9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa memang sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita lupa menunaikan janji? lupa sholat? Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi, tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak strategi nisyan.

Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan berusaha agar tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)

Sumber : WWW.TAUSHIYAH- ONLINE.COM

Ditulis dalam dakwah. 1 Komentar »

Hujatan terhadap Allah, Islam, Muhammad dan Al Quran..

mouth.jpg

 

 

Dah lama g ngeblog…

 

Panas banget ni hati ini sebagai seorang muslim. Gimana enggak, ada yang berani menantang Sang Pencipta dengan menghina Islam. Awalnya si lagi googling proxy by passer gara-gara banyaknya situs yang diblock ma kantor pusat instansi tempatku mengais rezeki, eh tahu-tahu masuk ke sebuah forum yang isinya menghina Islam secara terang-terangan. Berikut beberapa yang saya kutip dari forum tersebut :

 

Muhammad stress berat sampai mau melakukan bunuh diri beberapa kali dengan mencoba melompat dari bukit tinggi ketika Waraqa bin Naufal si ahli Kitab yang pernah menterjemahkan Taurat dan Injil dalam bahasa Arab meninggal dunia.

Sesudah wafatnya Waraqa, wahyu untuk Muhammad pun tidak turun-turun untuk suatu masa. Ini jelas bahwa Muhammad sangat khawatir bahwa wahyu yang didapatnya dari Waraqa tidak bisa di teruskan karena dia kurang memahami Kitab2 sebelumnya. Oleh karena itu, dia mencoba membunuh dirinya daripada ketahuan nyontek dari kitab terjemahan atau gubahan Waraqa. Setelah mengurungkan niatnya akhirnya dia nekat melanjutkan wahyu Waraqa dengan cara belajar sambil jalan. Makanya diperlukan waktu 23 tahun untuk menyampaikan hasil karya Waraqa yang dikumpulkan dari contek sana contek sini. Stress deh jadinya, kalo contekan hilang.



Sahih Bukhari. Volume 1, Book 1, Number 3:

 Narrated: ‘Aisha

 

SARANG LABA-LABA ADALAH YG PALING LEMAH ??????
user posted imageQuran 29:41
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Payah nih Allah. Katanya Maha Tahu, tapi koq kagak tahu malah bilang rumah (sarang) laba-laba itu rumah yang paling lemah. Bisa marah atuh si Laba-Laba di remehkan begitu.

 

Itu baru secuil dari banyaknya penghinaan yang mereka lakukan. Mereka mencoba untuk mengaburkan pengertian Islam yang sebenarnya karena kedengkian yang ada di hati mereka sesudahnya datangnya keterangan yang jelas (Al Quran). Apa mereka pikir izzah Allah akan jatuh dengan penghinaan mereka? TIDAK. Sama sekali tidak. Allah tak akan berhenti menjadi Tuhan Alam semesta. Bahkan kalo mereka mau membuka hati dan akal mereka, mereka adalah makhluk-makhluk Allah juga. Karena kasihNya sampai saat ini mereka masih bisa bernapas di bumiNya, meskipun mereka durhaka pada TuhanNya. Ya Allah, berilah mereka hidayah…

Mereka juga menghina Muhammad, manusia yang memang layak untuk dijadikan contoh. Bahkan Allah sendirilah yang menyebutkannya dalam firmanNya, Allah yang memuji beliau karena akhlaqnya.

Alangkah bodohnya mereka menghina Islam, Muhammad, Al Quran dan juga Allah, Tuhan mereka sendiri. Apa mereka sudah siap dengan azab yang akan diterimanya kelak baik di dunia maupun di akhirat nanti? Jika Allah sudah mencabut satu saja keni’matan dari mereka, niscaya mereka akan meminta padaNya untuk dikembalikan ni’mat itu pada mereka. Ni’mat hidup misalnya. Apa mereka sudah siap untuk mempertanggungjawabkan kedustaan mereka pada Allah jika maut menjemput? Niscaya mereka akan meminta untuk diberi tangguh hidup di dunia. Apa mereka tidak sadar bahwa Allah, yang mereka hina adalah satu-satunya tempat kembali mereka. Sungguh, dunia ini hanyalah sementara. Akhiratlah yang kekal keberadaannya. Tak tahukah mereka bahwa di akhir napasnya Firaun pun mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya? Tak sadarkah mereka bahwa syaithan pun beriman pada Allah, takut pada Allah.

Mereka hina Al Quran, petunjuk hidup yang Allah turunkan untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sana? Apa mereka merasa mempunyai pedoman hidup yang akan menyelamatkan mereka? Apa mereka tak mendustai hati mereka sendiri atas tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak di muka bumi yang Allah firmankan dalam Al Quran? Demi Allah, Al Quran tak tergantikan meskipun mereka menghinanya dengan berbagai cara, lewat pemikiran ataupun penistaan dengan membakarnya atau membuangnya ke closet. Sekali-kali tidak. Sungguh, kalian tidak akan pernah mampu untuk membuat barang satu ayat yang mampu mengungguli Al Quran. Al Quran tak akan dicabut sebagai sumber hukum tertinggi bagi kehidupan ummat manusia. Al Quranlah imam kita yang akan menuntun kita.

Mereka juga menghina Nabi Muhammad, dengan segala cara. Bahkan melebihi cara orang-orang kafir yang membuang kotoran unta di kepala beliau yang mulia. Demi Allah, Muhammad adalah pribadi paripurna yang paling layak dijadikan teladan bagi seluruh umat manusia. Apa mereka ingin menggeser posisi Muhammad sebagai Rasul yang diutus secara langsung oleh Allah dengan mereka dan orang-orang pilihan mereka? Demi Allah, kedudukan Muhammad tak akan pernah bergeser. La ilaaha illahh Muhammadur Rasulullah…Tak sadarkah mereka bahwa orang yang mereka hina adalah satu-satunya mannusia yang akan memberikan syafaatul uzma (pertolongan yang besar) di akhirat nanti? Bahkan semua Nabi, dari Nabi Adam hingga Nabi Isa yang mereka anggap sebagai Tuhan pun menyerah karena tak mampu memberikan syafaat itu.

 

Saudara-saudaraku seiman…tolaklah mereka dengan cara yang lebih baik. Tunjukkan kebenaran pada mereka agar cahaya hidayah ini akan memancar ke seluruh bumi Allah. Mari kita buktikan bahwa Islam adalah Rahmatan lil alamin..rahmat bagi seluruh alam. Doakan agar para penghujat itu sadar dan kembali pada jalan kebenaran sebelum Allah mengutus Malaikat maut untuk menjemput mereka..

 

Kalo saudara-saudaraku mau lihat situsnya..klik aja

http://nomind.3.forumer.com/index.php?s=685bf15b8a7dca9abc9b3e0916766183&act=Search&CODE=getalluser&mid=2

 

http://indonesia.faithfreedom.org/

 

http://www.eramuslim.com/berita/int/7809092912-anggota-parlemen-desak-agar-al-quran-dilarang-belanda.htm

 

Ditulis dalam dakwah. 3 Komentar »

Menyongsong Kemenangan

islam.jpg

Saudaraku,…

Pernahkah kita membandingkan dua kondisi berikut:

Anak-anak dengan tangan-tangan kecilnya yang halus menggenggam batu, tapak-tapak mereke diiringi musik desingsn peluru, yang bagi mereka itulah musik syurga..

Degup jantung mereka , subhanallah,… berisi kerinduan menegakkan kalimatullah

Tiada yang mereka khawatirkan saat itu, nyawa sekalipun…

Sedangkan kita?

Mungkin kita bisa menjawabnya dengan enteng : ”Ah,..itu kan di Palestina.” Ya, alhamdulillah kita berada di lingkungan yang relatif tenang, terlindungi dari serangan frontal. Namun bukan berarti kita terbebas dari perang yang bernama “Ghozwul Fikri”, sebuah perang yang bertujuan menjauhkan ummat muslim dari agamanya. Serangan dalam perang ini banyak sekali dan telah merasuk menjadi bagian dari keseharian kita tanpa kita sadari, seperti isu Islam teroris, Islam membingungkan, Islam

garis keras-ekstrimis, Islam ya Islam tapi yang biasa-biasa sajalah-tidak perlu ngoyo, semua agama itu benar, jilbab hanya tradisi, bukan syariat, pacaran-berkhalwat sah-sah saja, dan masih banyak isu-isu lain yang dihembuskan yang mengaburkan perbedaan antara yang haq dan yang batil. Bahkan lebih

dari itu, kristenisasi pun merajalela. Astaghfirullah…


“ Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekefiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…”(Q.S Al Baqarah:109)

…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu kepada kekafiran, seandainya mereka sanggup…”(Q.S. Al Baqarah:217)


Semangat Kemenangan


Fikrah pertama, Ta’ashub (fanatik) terhadap risalah Allah SWT
.

Sumber utama dan pertama yang menjadi dasar pengambilan rujukan generasi pertama adlah Al-Quran. Hanya Al-Quran. Hadist Rasululah beserta petunjuk-petunjuk praktisnya hanya merupakan refleksi sumber utama. Rasulullah membatasi sumber pengambilan generasi pertama, ketika pada masa takwin arrijal (pembentukan) hanya kepada kitabullah semata. Hal tersebut dimaksusdkan untuk membersihkan jiwa dan orientasi mereka. Karena itu, Rasulullah menunjukkan kemarahannya ketika Umar ibnul Khattab mencoba mengambil sumber lain (Taurat). Rasulullah juga mengokohkan keyakinan mereka bahwa risalah yang ada di hadapan mereka merupakan risalah yang paling mulia, paling tinggi dan paling sempurna. Ia adalah kebaikan, selainnya adalah keburukan. Ia adalah kebahagiaan, selainnya adalah kesengsaraan.

Fikrah kedua, Mengkuduskan Ukhuwah Islamiyah

Wujud konkrit dari ukhuwah Islamiyah berasal dari penyesuaian hati kepada fitrah sebagai hamba Allah yang telah terbebas dari unsure-unsur yang mengotori hati itu. Tegasnya, ukhuwah Islamiyah yang fitrah itu tidak akan pernah terwujud dengan baik apabila jiwa dan tubuh ummat ini tidak mencoba menyesuaikan diri kepada fitrah, dengan memurnikan ketaatan dan menunjukkan ketaatan kepadaNya. Kesucian, keluhuran dan keeratan Ukhuwah Islamiyah dapat berangsur hilang dan menguap jika salah satu subjek pelaku Ukhuwah itu mengabaikan nilai-nilai Ilahiyah. Inilah hakikat darisebuah jargon abadi Ukhuwah Islamiyah, ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara… (Q.S.Al Hujurat: 10)

Lebih lanjut Rasulullah SAW memberikan perumpamaan terhadap ukhuwah Islamiyah dalam hadistnya yang sudah kita kenal, ”perumpamaan orang yang beriman dalam berkasih saying adalah mereka itu seperti tubuh yang satu. Apabila mengaduh salah satu dari anggota tubuhnya, maka memanggil ke seluruh tubuhnya sehinnga terjadilah ia ikut merasakan panas atau demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam kenyataan di lapangan kalimat Rasulullah SAW ini dibuktikan beliau denagan menegakkan Ukhuwah sebagai langkah teknis sdan strategis dalam mempercepat proses integrasi kaum Muslimin saat itu. Untuk itu Rasulullah merintisnya dengan terlebih dahulu mengkondisiksn ruhiyah para sahabat sehingga terjalin ikatan yang kuat dan menyatukan hati maupun pikiran mereka. Dari situlah kemudian tercipta sebuah tatanan system keummahan, cita-cita dakwah Rasulullah SAW.Oleh karenanya, dengan menegakkan ukhuwah Islamiyah kita sebenarnya sekaligus membangun cita-cita keummahan, sebuah tatanan masyarakat Islam.

Fikrah ketiga, Jamaah yang solid.

Yang dimaksud jamaah yang solid adalh jamaah yang tidak dibatasi oleh mahdzab tertentu, tidak dimonopoli oleh masyarakat tertentu dan kepemilikannya tidak boleh diklaim oleh kelompok tertentu. Singkatnya, mereka adalah yang bekerja sama melibatkan siapam saja yang ikut andil dalam menyerukan Islam. Ditangan merekalah berkumpul semua harapan dan impian. Harapan untuk mengembalikan rasa percaya diri kaum muslimin. Mereka membuang semua rasa kebimbngan yang telah diwariskan dari kekalahan-kekalahan yang dialami ummat ini. Mereka yang akan membangkitkan jiwa, menajamkan hati, dan menajamkan nurani dan perasaan.

Baris Baru Kader Dakwah

“Telah sekian lama aku bergaul dengan banyak orang

Pengalaman-demi pengalaman menempaku

Tiada hari datang padaku kecuali menyenagkan di jumpa-jumpa pertama

Namun menyakitkan jua di akhirnya”


Syair tersebut adalah ungkapan kekecewaan seorang penyair terhadap kondisi pemuda. Sosok pemuda, terutama kader dakwah hari ini penampilan mereka pada awalnya selalu memberikan kesan yang menyenagkan. Mampu melambungkan harapan akan sebuah perbaikan. Namun, semakin mendalam perkenalan berjalan, semakin banyak kelemahan yang terungkap. Hingga akhirnya kekecewaan memenuhi diri, menyadari harapan yang diberikan terlalu besar dari kenyataan yang ada pada sosok pemuda. Kepada parapemuda dakwah hal ini harus ditegaskan. Saat ini adalah bagian dari masa penantian. Hari-hari yang menentukan. Setiap detik yang tersedia dioptimalkanuntuk menyongsong kesempatan membuat perubahan. Menyongsong kemungkinan datangnya satu fase kemenangan. Dan sebagaimana yang seharusnya terjadi, perhatian dan kerja tidak saja diberikan untuk ekspansi ‘keluar’, namun justru lebih banyak untuk introspeksi ‘kedalam’.

Beban atau Solusi Perjuangan

Mari kita bertanya pada diri kita, apakah kita adalah solusi ataukah beban dalam dakwah ini?Sesungguhnya dakwah ini tidak pernah meminta sesuatu dari kita. Kita dating dengan kesadaran, melihat dan mengetahui kebutuhan untuk berhimpun dalam barisan perjuangan. Tidak ada keharusan, tidak ada paksaan.Maka koreksi lagi keluhan dan keberadaan kita. Kalau kita sudah menganggap daklwah ini memberatkan, menyingkirlah. Allah akan mengutus generasi baru yang lebih siap dan lebih bagus sdari kita.Jika kesadaran akan hal ini sudah kembali kita miliki, maka sambutan palng tepat adalah:”Selamat bergabung, Saudaraku!”Inilah jalan yang selalu menyediakan lowongan pekerjaan. Inilah jalan yang selau menuntut penyempurnaan. Inilah jalan yang hanya menerima kebersihan. Dengan semua itu kita akan selau berkembang. Kita akan selau meyakini kebenaran tapak kehidupan yang kita torehkan dalam sejarh. Kita kan berujung pada kemenangan hakiki. Kemenangan besar yang Allah janjikan. Inilah seruan kepada putra-putri Islam yang memiliki semangat perjuangan. Seluruh jamaa’h Islam hari ini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haramlah hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertunggal dari kafilah, meskipun sesaat.

Epilog

Saatnya kembali berpikir. Kemenangan bukanlah suatu titik akhir. Kemenangan adalah hasil sebuah proses yang menuntut perjalanan panjang sebuah proses yang lain lagi. Karena bagi seorang mukmin, kemenangan hakiki adalah saat berjumpa dengan Allah dengan senyum kebahagian tersungging kelak..

Demikianlah. Masih terlalu panjang perjalanan dan masih selalu sedikit kekuatan. Maka teruslah berjalan dan lipatgandakan kesabaran. Karena kemenangan tideaklah dating begitu saja; tetapi sebuah titik yang harus diraih dengan darah dan air mata.

“Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul(yaitu) sesungguhnya mereka yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menanga.”(Q.S. Ash-Shaffat:171-173)

Wallahu a’lam bisshowwab.

Diolah dari berbagai sumber.

    1. AKHLAQ KEPADA KEDUA ORANG TUA

      Akhlaq (bentuk jama’nya khuluq) artinya tabiat, watak, perangai, budi pekerti. Menurut Imam Ghazali, akhlaq adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jiwa, sehingga timbul perbuatan tanpa pikir dan teliti (spontan), jika ia melahirkan perbuatan baik dan terpuji, maka disebut akhlaq baik, begitu juga sebaliknya.

      Ciri-ciri akhlaq Islam:

      1. Robbani (landasan, cara, dan tujuan amal hanya kepada Allah)
      2. Manusiawi (tidak berat, mudah, bertahap)
      3. Universal (tidak parsial, dunia akhirat, hidup dan mati)
      4. Menjaga keseimbangan (jasmani dan rokhani, vertikal dan horizontal)
      5. Realistis (wajar dan sedang)

      Ayat-ayat Al Qur’an tentang akhlaq kepada kedua orang tua:

      1. Annisa’ (4) :36

      “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatau apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapakmu.”

      1. Al Ankabut (29) :8

      Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya”.

      1. Maryam (19) :14

      “Dan banyak berbakti kepada keduia orangtuanya.”

      1. Maryam (19) :32

      “Dan berbakti kepada ibuku”.

      1. Al Isra (17) : 23-25

      “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduannya telah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan”ah”dan janganlah kamu membentak merekadan ucapknlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah merekasebagaimana mereka berdua telah mendidik akuwaktu kecil” Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat”.

      1. Luqman (31) :14-15

      “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya telah mengndungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jaln orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

      Hadits-hadits tentang Memuliakan kedua orang tua

      1. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah

      Datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling harus aku perlakukan secara baik?”Beliau menjawab, ”Ibumu.” Orang itu bertanya, ”Lalu siapa?” Beliau jawab ”Ibumu.” Lalu siapa?”, kata orang itu. Jawab Beliau, ”Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, ”Lalu siapa?” Rasulullah SAW berkata, ”Bapakmu.”

      1. HR Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud

      Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, ”Shalat pada awal waktunya”. Aku bertanyalagi, ”Kemudian amal apa?” Beliau jawab, ”Berbakti kepada kedua orang tua.” Lalu aku bertanya lagi, ”Kemudian apa lagi?” Beliau jawab, ”Jihad di jalan Allah.”

      1. HR Muslim dari Abi Hurairah

      Rasulullah SAW bersabda, ”Celaka!Celaka!Celaka!” Sahabat bertanya, ”Siapa yang celaka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Yaitu orang yang menemui kedua orang tuanya atau salah satunya setelah berusia lanjut, laulu ia tidak masuk surga (karena berbakti kepadanya)”.

      1. HR Bukhari dan Musli dari Abdullah bin Amr bin Ash

      Seseorang datang kepada Rasulullah minta izin untuk berjihad (berperang). Rasulullah SAW bertanya kepadanya,”Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Orang itu berkata, ”Ya, keduanya masih hidup.” Beliau berkata, ”Berjihadlah pada keduanya!”

      1. HR Muslim Abu Daud dari Abu Hurairah

      Rasulullah SAW beersabda, ”Seorang anak belumlah dikatakan membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali bila orang tuanya ia temukan dalam status budak (hamba sahaya) lalu ia beli dan kemudian dimerdekakan.”

      6. HR Bukhari dan Muslim

      “Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan persaksian palsu.”

      Bagaimana memuliakan kedua orang tua?

      1. Berbicaralah dengan kedua orang tua dengan penuh sopan santun dan berlemah lembutlah kepada mereka.
      2. Taatilah segala perintah keduanya, kecuali jika dalam rangka dosa dan maksiat.
      3. Peliharalah selalu nama baik keduanya.Jangan kamu masuk ke dalam kamar mereka tanpa izin dan sepengetahuan mereka, khususnya pada waktu-waktu istirahat dan tidur
      4. Jangan membohongi dan jangan mencela mereka ketika mereka berbuat sesuatu yang tidak mengenakkanmu.
      5. Bantulah keduanya, dan jangan terlambat menyambut panggilannya.
      6. Apabila kamu sudah dewasa dan sanggup mencari nafkah sendiri, maka bekerjalah secara baik dan bantulah mereka.
      7. Doa ibu-bapak dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itumaka berusahalah agar keduanya selalu mendoakanmu dalam kebaikan.
      8. Berbaktilah kepada keduanya baik ketika masih hidup

      Daftar Pustaka:

      Al Qur’an dan terjemahnya

      Al Mahmud, Ibrahim. Bagaimana Memuliakan Orang Tua. Jakarta: Pustaka Nawaitu. 2003

      TOTALITAS ISLAM

      menuju.jpg

      Identitas Buku

      Judul terjemahan         : Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam

      Judul Asli                       : Nahwa Wahdah Fikriyyah lil ‘Amilin lil Islam

      Penulis                           : Dr. Yusuf Qardhawi

      Penerbit Asli                 : Maktabah Wahbah, Kairo, Mesir

      Penerbit terjemahan    : Robbani Press

      Penerjemah                    : A. Najiyullah

      Penyunting                     : Sunmanjaya R.

      Jumlah halaman               : 233

      Dari Dustur Ilahi

      Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyuruh kepada kebaikan, menyuruh

      kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (Q.S. Ali Imran:104-105)

      Mukadimah

      Ba’da tahmid wa shalawat.

      Buku ini adalh hasil ijtihad Dr.Yusuf Qardhawi untuk menanggapi polemik antara Al Ustadz Al Khuli dan Al Ustadz Abdul Aziz Kamil tentang risalah At Ta’lim Al Fahm (Dua puluh prinsip) Hasan Al Bannna. Al Bahli Al Khuli berpendapat hendaknya setiap orang tidak berhak mensyarah warisan Al Banna dan mengomentarinya. Jika tidak demikian, setiap orang akan menafsirkannya semaunya karena risalah-risalah Al Banna merupakan manhaj resminya Ikhwanul Muslimin. Sedangkan Abdul Aziz Kamil berpendapat bahwa pemikiran seperti itu akan mewajibkan kediktatoran fikrah terhadap jamaah dan para ulamanya. Hal ini akan membelenggu dinamika berfikir dalam jamaah serta memberikan otoritas kepausan bagi sebagian putra-putra jamaah terhadap sebagian yang lain.

      DUA PULUH PRINSIP

      Imam Hasan Al Banna berkata:”Wahai saudara-saudara yang jujur. Rukun Bai’at kita da sepuluh. Hafalkanlah: Faham, Ikhlas, ‘amal, Jihad, Tadhliyah, Tha’at, Tsabat, Tajarrud, Ukhuwah dan Tsiqoh.”

      “Wahai Saudaraku yang jujur. Yang dimaksud dengan faham ialah anda meyakini bahwa fikroh kami adalah Islam Murni, dan Anda memahami Islam seperti yang kami fahami dalam batas Dua Puluh Prinsip” yang secara singkat sebagi berikut:

      1. Islam adalah sebuah sistem universal yang lengkap mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan. Islam adalah negara, bangsa dan tanah air, pemerintahan dan rakyat. Islam adalah akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan. Islam adalah kultur dan perundang-undangan, sains dan hukum. Islam adalah materi, usaha dan kekayaan. Islam adalah jihad dan da’wah, tentara dan ideologi. Sebagaimana Islam adalah aqidah yang murni, dan sekaligus ibadah yang benar.

      2. Al Quran dan As-Sunnah adalah referensi setiap muslim dalam mengambil hukum-hukum Islam. Al Quran mestilah difahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa dibuat-buat dan serampangan. Sedangkan memahami As-Sunnah harus kembali kepada rijal hadist yang terpercaya.

      3. Iman yang tulus, ibadah yang benar dan mujahadah itu bercahaya, serta mempunyai rasa manis yang Allah percikkan ke dalam kalbu siap saja dari hambanya yang dikehendaki-Nya. Tetapi ilham, obsesi, kasyfu dan mimpi tidaklah termasuk dalil hukum syar’i, tidak termasuk dalam hitungan, kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

      4. Jimat, mantra, makam keramat, ramalan, perdukunan, mengaku tahu yang gaib, dan yang sejenisnya adalah suatu kemunkaran yang harus diperangi, kecuali yang berasal dari Ayat Al Quran atau doa yang ma’tsur.

      5. Pendapat Imam dan wakilnya mengenai sesuatu yang tidak ada nashnya dan mengenai sesuatu yang mungkin banyak pendapat dalam “mashalih mursalah” adalah bisa diamalkan selama tidak bertentangan dengn aqidah syari’yyah. Hal itu kadang-kadang berubah sesuai situasi, kondisi, adat, dan tradisi. Prinsip dasar dari ibadah adalah ta’abbud tanpa melirik kepada ma’na. Sementara prinsip dasar dalam tradisi adalah melihat kepada rahasia, hikmah, dan tujuan.

      6. Pendapat seseorang boleh saja diikuti atau juga ditinggalkan, kecuali Rasulullah saw, karena hanya Rasulullahlah manusia yang ma’shum. Segala apa yang datang dari salafus salih yang sesuai dengan al Quran dan As Sunnah kita terima. Jika tidak, maka Al Quran dan As Sunnah lebih diprioritaskan untuk diikuti. Tetapi kita tidak boleh menyerang pribadi-pribadi–dalam masalah khilafiah seraya mengutuk atau melukai- kembalikanlah semua itu kepada niatnya masing-masing, karena betapapun mereka telah mengemukakan pandangannya.

      7. Setiap muslim yang belum mencapai tingkatan mujtahid dalam melihat dalil-dalil hukum far’i bolehlah ia merngikuti salah satu imam agama, dan akan lebih baik baginya disamping mengikuti, berijtihad sejauh kemampuan yang ada dalam menggali dalil-dalilnya, dan hendaklah ia menerima segala petunjuk yang disertai dengan dalil, selama hal itu benar menurutnya demi kebaikan dan kemampuan yang ditunjukinya itu. Begitupun juga hendaknya ia menyempurnakan kekurangan ilmiahnya jika ia termasuk ahli ilmu sampai ia mencapai tingkatan mujtahid.

      8. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’(fiqih) tidaklah dijadikan sebab perpecahan dalam agama. Setiap mujtahid itu mendapatkan balasannya. Boleh-boleh saja melakukan penelitian ilmiah yang murni dalam masalah-masalah khilafiah itu atas dasar cinta karena Allah dan kerjasama untuk mencapai kebenaran, tanpa mengacu kepada perdebatan terkutuk dan fanatik.

      9. Melibatkan diri ke dalam masalah yang ada padanya tidak ada peluang untuk mengamalkannya adalah sesuatu yang sia-sia, yang secar syar’i kita dilarang. Misalkan, banyak memecah-mecah cabang hukum yang tidak realistis, mengutak-atik ayat Al Quran yang sains belum mampu mencapainya. Termasuk dalam hal ini memperbandingkan kualitas pribadi diantara para sahabat ra berikut perseliihan diantara mereka. Sebab, masing-masing mereka mempunyai keutamaan dan balasan niat baiknya.

      10. Mengimani, mengesakan, dan menyucikan Allah SWT merupakan peringkat aqidah Islam yang peling luhur. Ayat-ayat dan hadist sahih mengenai sifat-sifatnya dengan segala mutasyabihat(yang tidak jelas kepastian pengertiannya) kita yakini sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan tha’til. Kita pun tidak mengemukakan perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai sifat-sifat itu. Kita hanya memahaminya sejauh apa yang dipahami oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat,. Semua itu dari sisi Rabb Kami.”(QS Ali Imran:7)

      11. Segala bentuk bid’ah yang dilakukan oleh manusia atas dorongan hawa nafsunya dalam masalah agama, baik dengan cara menambah atau menguranginya, adalah kesesatan yang harus diperangi sampai ke akar-akarnya .

      12. Bidah idhofiyah (menambah amalan dari kadar yang ditetapkan oleh syara’), bid’ah tarkiyah (menguranginya) dan bid’ah iltizam (membiasakan diri melakukan suatu bentuk ibadah tertentu yang tidak dicontohkan Rasulullah) dalam hal peribadatan mutlak diperselisihkan para ulama. Masing-masing ada pendapat dan alasan mengenainya sendiri-sendiri. Boleh saja dilacak kebenarannya berdasarkan dalil dan bukti.

      13. Mencintai orang-orang shalih, menghormati mereka, menyanjung mereka atas dasar amal baiknya yang telah diketahui karena mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang dimaksudkan dengn para wali itu adalah mereka yang disebutkan dalm Al Quran QS 10, Yunus:63)

      “ Orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa

      Adapun keyakinan bahwa mereka diridhai Allah., mereka tidak memiliki kekuatan apapun yang dapat mendatangkn manfaat dan tidak pula mudharat, baik ketika mereka hidup maupun setelah mereka mati.

      14. Ziarah kubur, bagaimanapun adalah sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang ma’tsur (berdasarkan sunnah rasul). Tetapi meminta-minta kepada ahli kubur, memanggil-mangil mereka bernadzar demi mereka adalah bid’ah besar yang harus dikikis habis. Demikian pula membangun, menembok, dan mengatapi kuburan atu meneranginya, bersumpah kepada yang selain Allah adalah dosa besar yang harus diperangi. Adapun memintakan ampunan bagi yang mati, tidak termasuk dalam masalah ini. Kita tidak menta’wil demi untuk pencegahan preventif.

      15. Berdoa kepada Allah apabila dibarengi dengan tawassul kepada salah seorang hambanya adalah masalah khilafiah (boleh atau tidaknya). Dan ini tidak termasuik dalam masalah Aqidah.

      16. Tradisi yang keliru itu tidak merubah hakikat lafadz syar’i bahkan harus dikukuhkan dalam batas-batas ma’na maksudnya dan berhenti sampai disitu.

      17. Aqidah adalah fondasi amal. Amaliah kalbu lebih penting daripada amal fisik. Berusaha mencapai kesempurnaan dalam masing-masing amaliah tersebut secar syar’i adalah dituntut, meskipun tuntutannya berbeda.

      18. Islam memberikan kebebasan dan mendorong akal untuk memandang alam semesta, mengangkat derajat ilmu dan ulama, ramah terhadap semua orang yang menyumbangkan kebaikan dan kemanfaatan. Hikmah itu adalah milik orang mukmin. Dimana saja ia menemuinya, dalah yang paling berhak megambilnya”

      19. Masing-masing dari pandangan syar’i dan rasio kadang-kadang mencakup apa yang tidak masuk dalam wilayah yang lain. Tetapi kedua-duanya tidak bertentangan dalam hal-hal yang sudah pasti (qath’i). Oleh sebab itu, tidak akan bertabrakan antara hakekat ilmiah yang benar dengan kaidah syar’i yang baku. Yang dzonny dari keduanya bisa dita’wilkan agar cocok dengn yang qath’i. Dengan demikian, apabila kedua-duanya dzonny, maka pandangn syar’i lebih berhak untuk diikuti sampai dengan pandangan rasio itu mantap atau runtuh.

      20. Kita tidak boleh mengkafirkan seorang muslim yang mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat, mengamalkan segala konsekuensi logisnya, dan menjalankan segala kewajiban yang telah ditentukan padanya, sekalipin ia masih suka mengerjakan kemaksiatan. Kecuali apabila ia menyatakan diri kafir atau mengingkari sesuatu yang sudah dipastikan oleh agama. Atau mendustakan ayat-ayat Al Quran dan menafsirkan dengan cara yang tidak sesuai dengn uslub Bahasa Arab atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dapat diinterpretasikan selain kafir.

      Apabila seorang muslim mengetahui agamanya dalam 20 prinsip ini, maka ia telah mengeanal arti slogannya yang selalu dikumandangkan”Al Quran dustur kami, dan Rasul saw teladan kami. ( Hasan Al Banna)

      MENGAPA HASAN AL BANNA MENDAHULUKAN AL-FAHM

      Menurut kita, umat islam, ilmu itu mendahului amal, bahkan ilmu itu adalah petunjuk iman dan jalan aqidah yang benar. Imam Ghazali dan para sufi besar lain berpendapat mukadimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi dan orang-orang yang benar itu tidak akan tercapai kecuali diramu dengn tiga dimensi yang tersusun rapi, yaitu ilmu, perilaku dan almal. Ilmu akan mewariskan perilaku, dan perilaku akn mendorong amal. Hal ini mirip dengan pendapat para ahli psikologi tentang persepsi, emosi, dan kecenderungn. Manusia mengenal dan berpersepsi, kemudian terpengarauh dan terkesan, baik suka atau pun tak suka, kemudian berkecenderungan dan berkeinginan baik positif maupun negatif.

      Urutan tersebut sangat jelas di dalam Al Quran

      Dan bahwa orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang haq dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya”(QS 22, Al Hajj:54)

      Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan bagi orang-orang orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan(QS 47, Muhammad:19)

      Imam Bukhari di dalam Kitab Ilmu berkata :”Bab ilmu sebelum ucapan dan Amal berdasarkan firman Allah.”Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah melainkan Allah.”

      Bab pertama dari 40 bab dalam kitab Ihya Ulumuddin adalah bab Ilmu. Rintangan pertama yang harus disingkirkan oleh seseorang yang sedang menelusuri jalan menuju Allah adalah rintangan ilmu, sebagaimana disebutkan dalam kitab Minhaj Al Abidin karya Ghozali pula.

      Imam Hasan Al Basri berkata:” Seseorang yang beramal tanpa ilmu, yang dirusak lebih banyak daripada yang diperbaikinya. Maka, tuntutlah ilmu dengan cara yang tidak merusak ibadah. Dan tuntutlah ibadah dengan cara yang tidak merusak ilmu. Sebab ada suatu kaum yang menuntut ibadah tetapi meninggalkan ilmu, sehingga mereka keluar membawa pedang membantai umat Muhammad saw. Seandainya mereka menuntut ilmu, niscaya tidak akan melakukan tindakan tersebut.Yang dimaksud dengan mereka itu adalah Kaum Khawarij.

      “Diantara kalian ada yang membutuhkan sholatnya kepada sholat mereka, puasanya kepada puasa mereka, dan bacaannya kepada bacaan mereka. Tetapi bencana mereka, bahwa mereka membca Al Quran tidak melebihi kerongkongan mereka”

      Artinya bahwa mereka tidak mendalami pemahaman Al Quran, sehingga sampai kepada titik bahwa mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Oleh karena itu, harus berilmu sebelum beramal. Sebagaimana Muadz berkata: ”Ilmu adalah imamnya amal, dan amal adalah pengikut ilmu.”

      Rasulullah bersabda: ”Keutamaan orang alim terhadap tukang ibadah bagaikan keutamaanku terhadap orang yang paling rendah dari kalian.”

      Sebagian salaf berkata:”Kebutuhan seseorang kepada ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum.”

      Kebutuhan manusia muslim kepada ilmu terscermin pada hal-hal berikut:

      a. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara keyakinan yang haq dan yang bathil, antara fikrah yang benar dan yang keliru, melalui sebuah prinsip dan patokan yang dibuatnya untuk meluruskan pemahaman dan penggunaan dalil.

      b. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara yang disyariatkan dengan yang tidak disyariatkan. Yakni membedakan antara yang halal dan yang haram, dalam segala hal dan tingkah laku; antara yang sunnah dan yang bid’ah dalam mendekatkan diri kepada Allah, antara yang baik dan yang buruk, dalam akhlak dan perilaku.

      c. Ilmu merupkan satu-satunya sarana untuk membedakan tingkatan-tingkatan amal dan kewajiban syariat secara benar.

      d. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk menghukum secara adil pribadi-pribadi dan jamaah, mengevaluasi sikap dan kasus secar benar yang jauh dari kedzaliman dan hawa nafsu, kedan terhindar dari ifrath (berlebihan) dan tafrith (berkurang)

      Mengapa Hasan Al Banna mengungkapkan al fahm sebagi ganti al-ilm

      Imam Hasan Al Banna mengungkapkan ilmu dengan kata al-fahm karena faham merupakan tujuan ilmu.

      Allah SWT berfirman :

      “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu menjaga dirinya”(QS 9, Attaubah:122)

      Rasulullah saw bersabda:

      Siapa saja dikehendaki Allah menjadi baik, niscaya difahamkan-Nya ia tentang agama.”(HR Mutafaqquh Alih)

      Al Fiqhu (faham) lebih khusus daripada Al Ilmu (tahu). Al Fiqhu artinya faham, bahkan faham yang mendalam, ysng menembus sampai intinya, tidak cukup hanya sampai di kulitnya fahamlah yang menandai yang menerangi akal dan menghidupkan kalbu.

      Faham yang Benar Merupakan Ni’mat yang terbesar

      Al’Allamah Ibnul Qayim ketika menjelaskan kitab Umar Fil Qadha mengatakan faham yang benar dan tujuan yang baik adalah ni’mat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, bahkan tak ada pemberian, setelah Islam yang lebih besar dan lebih agung daripada kedua ni’mat tersebut; keduanya adalah pembawa dan penegak Islam. Dengan keduanya lah seorang hamba selamat dari jalan orang-orang yang dimurkai Allah, yang rusak motivasinya, selamat pula dari jalan orang-orang yang keliru pemahamannya. Sehingga ia menjadi orang yang mendapatkan ni’mat serta memiliki pamahaman dan motivasi yang baik. Mereka berada di atas jalan yang lurus, jalan yang kita diperintahkan untuk berdoa kepadanya Pada setiap kesempatan shalat, agar ditunjuki kepada jalan yang mereka itu . Faham yang benar merupakan cahaya yang dimasukkan Allah ke dalam qolbu hambaNya, yang bisa membedakan antara yang baik dan yang rusak, haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, samar dan jelas. Memberinya pula niat yang baik, konsisten dalam kebenaran, bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai. Diputuskannya pula terhadap sikap mengikuti hawa nafsu, mementingkan dunia, mencari sanjungan orang, dan meninggalkan taqwa.

      Ali ra, beliau ditanya: “Adakah Rasulullah saw mengkhususkan sesuatu kepada kalian?”Ali menjawab: ”Tidak, selain faham yang diberikan kepada seorang hamba tentang kitab Allah dan apa yang ada dalam lembaran ini…” Ia mengeluarkan sebuah lembaran yang di dalam nya tedapat beberapa hukum.

      Mengapa Kita Perlu Menguaraikan Dua Puluh Prinsip Tersebbut?

      Yang bisa kita tafsirkan, bukan hanya Al Quran dan Hadist, tapi juga buku-buku karangan manusia biasa yang tidak ma’shum, yang ditulis syarahnya.

      Jadi bukanlah sesuatu yang aneh, membuat syarah dua puluh prinsip karya Hasan Al Banna. Agar ia menjadi landasan bagi kesatuan faham dari berbagai kalangan para aktivis Islam. Diupayakan agar syarah ini demikian singkat, dan sangat terfokus, agar mudah dicerna dan dihafal. Dua puluh prinsip itu lebih mirip dengan buku-buku matan dalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu Islam lainnya . Buku-buku matan selamanya membutuhkan syarah yang menjabarkan segala isinya, menyempurnakan yang masih perlu penjabaran dan dicarikan dalilnya mengenai berbagai hukum dan masalahnya.

      Untuk Siapa Hasan Al Banna Menguaraikan Dua Puluh Prinsip Tersebut?

      1. Para aktivis atau mujahidin dari jamaah Ikhwanul Muslimin

      2. Jamaah dan organisasi-organisasi sosial keagamaan yng ada di Mesir pada saat Hasan Al Banna menulis dua puluh prinsip tersebut.

      Perhatian Hasan Al Banna ketika menulis dua puluh prinsip tersebut terfokus pada organisasi-organisasi sosial keagamaan yang antara satu dengan yang lainnya saling berseteru. Fikrah dan hati Hasan Al Banna disibukkan oleh upaya menyatukan umat yang telah berpecah belah oleh berbagai perbedaan dari segala sudut. Oleh karena itu, adalah penting menyatukan front intern Islam dengan segala sarana yang memungkinkan. Ketika didirikan sebuah sebuah persatuan untuk berbagai organisasi kaeagamaan di Mesir, atau ketika kesatuan itu akan didrikan, tampillah Hasan Al Banna dengan dua puluh prinsip tersebut agar menjadi poros tempat bertemunya berbagai organisasi-organisasi itu.

      Diantara keistimewaan dua puluh Prinsip Tersebut

      1. Dua puluh prinsip tersebut pada umumnya mengarah kepada masalah-masalah yang mempunyai banyak perbedaan pendapat diantara berbagai aliran keagamaan.

      2. Dua puluh prinsip itu disusun dengan penuh bijaksana dan moderat, sehingga para ahli pikir dari pengikut berbagai aliran itu bisa bertemu, kendatipun sedikit saja terpenuhi syarat faham, ikhlas, dan toleransi.

      3. Dalam prinsip-prinsip itu, beliau lebih berorientasi pada penekanan dan singkat, tidak luas dan detail. Memperluas dan melakukan rincian dalam masalah ini akan memberikan peluang yang lebih besar untuk berbeda, banyak pendapat yang antara yang satu dengan lainnya saling bertabrakan dan berlawanan pula dengan yang dimaksud.

      4. Prinsip-prinsip itu tidak banyak diarahkan kepada orang-orang sekuler dan mereka yang berpendidikan barat.

      Visi Penghimpunan dan Pemaduan

      Pembentukan pemikiran dan jiwa Hasan Al Banna mengarah kepada konstruktif, bukan destruktif, kepada persatuan, bukan perpecahan. Hasan Al Banna ingin menyatukan umat di atas tujuan yang besar, menghimpun barisannya betapapun perbedaan visi dan orientasi untuk menghadapi kekuatan yang secara terang-teranngan memerangi Islam dan secara sembunyi-sembunyi menghadangnya. Bukan rahasia lagi bagi yang mau meneliti, bahwasanya banyak kendala yang menghalangi jalannya persatuan yang dicita-citakan itu. Sebab, persatuan itu menuntut kesepakatan tentang tujuan dan alfabetanya. Kemudian kesepakatan tentang sarana yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dan juga tentang kesepakatan tentang qiyadah (kepemimpinan) dan percaya kepada keikhlasan, kecakapan, dan kemampuan qiyadahnya tersebut dalam hal menggunakan sarana untuk mewujudkan tujuan.

      Penulis melihat bahwa menyatukan semua pergerakan dalam sebuah jamaah adalah sebuah mimpi yang sulit diwujudkan. Tidak perlu menyatukan semua jamaah Islamiyah dan dilebur menjadi satu. Cukup didekatkan antara satu dengan lainnya, hendaklah aktif bekerja agar ada sedikit koordinasi, tafahum dan kerjasama antar jamaah. Sehingga yang satu menyempurnakan yang lain, dan bersatu menjadi sebuah front dalam menghadapi masalah-masalah yang besar bagaikan sebuah bangunan yang kokoh. Dengan demikian, maka perbedaan itu akan merupakan perbedaan bentuk saja bukan perbedaan yang saling berlawanan dan konflik.

      PRINSIP PERTAMA: ISLAM ADALAH SEBUAH SYSTEM HIDUP YANG LENGKAP

      Barangkali, sumber perselisihan itu adalah tidak adanya mizan(tolok ukur) yang menjadi rujukan dan tidak adanya batasan sumber yang dijadikan referensi hukum atau berkebihan dalam menilai beberapa persoalan dan menhgorbankan persolalan-persoalan yang lain. Dapat juga karena tidak teliti dalam mengungkapkan masalah-masalah yang mengandung dua atau banyak pendapat.

      Sikap organisasi-organisasi sosial Keagamaan di Mesir ketika da’wah Hasan Al Banna muncul

      Semua organisasi keagamaan ini masing-masing mempunyai kelemahan. Masing-masing mempunyai perhatian satu aspek tertentu saja dari risalah Islam, menitik beratkan kepada yang satu dengan meninggalkan aspek aspek lainnya atau tidak memasukkan dalam hitungan. Barangkali ada diantara jamaah-jamaah tersebut yang menganggap jelek orang-orang yang sibuk memperhatikan dan menekankan aspek-aspek lainnya itu.

      Sikap-sikap partai politik

      Secara umum partai-partai politik ini berorientasi patriotisme-sekulerisme. Mereka berfikir bahwa “Islam“ hanyalah ketuhanan belaka, yang tidak ada hubungannya dengan negara, politik, dan hukum. Mereka juga berfikir bahwa agama dan sains adalah dua jalan berbeda yang tidak mempunyai titik temu. Menurut mereka bangsa yang ingin maju harus mengutamakan sains dan meninggalkan agama yang jauh dari hadapamya.

      MENGHAPUSKAN PARSIALISASI DA’WAH ISLAM

      Mengapa Hasan Al Banna Mengangkat Totalitas Islam

      1) Totalitas Islam

      Islam yang disyariatkan Allah tak membiarkan satupun dari aspek kehidupan. Islam adalah universal, mencakup segala aspek hidup dan kehidupan: material dan spiritual, personal dan sosial.

      Firman Allah (Q.S. 16:89)

      2) Islam menolak parsialisasi hukum dan ajaran-ajarannya.

      Al Qur’an mengingkari parsialisasai serupa yang telah ditempuh Israel.

      “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan dalam kehidupan dunia, sedang pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Q.S. 2:85)

      2) Kehidupan adalah satu kesatuan yang tak terpisah-pisah

      Kehidupan tak mungkin harmonis jika Islam hanya mendominasi sebagian saja dari keseluruhan aspek kehidupan itu. Misalnya Islam hanya mengurusi masjid saja, sedang yang lainnya diserahkan kepada madzhab-madzhab buatan manusia, pemikiran-pemikiran manusia, dan filsafat sekuler untuk mengatur dan mengurusinya. Manusia adalah ruh dan fisik, tak dapat dipisahkan, demikian pula kehidupan.

      (Firman Allah Q.S. Al-Maidah:50)

      Aspek-aspek fundamental Ajaran Islam yang menyeluruh

      1. Aqidah yang murni dan ibadah yang benar
      2. Aspek politik (Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan ummat)
      3. Aspek akhlak (Ialam adalah akhlaq dan power, atau kasih saying dan keadilan)
      4. Aspek kebudayaan, peradaban, ilmu
      5. Aspek hukum dan perundang-undangan (kebudayaandan perundang-undangan atau ilmu dan hukum)
      6. Aspek ekonomi (materi dan harta benda, atau usaha dan kekayaan)


      1.  

        Jihad dan da’wah atau militer dan ideologi

         

        Aspek jihad

      2. Aspek da’wah

      Kedudukan Negara dalam Islam

      a. Dalil dari teks-teks agama Islam

      1) Q.S 4:58-59

      2) Hadist:

      Apabila amanat dihilangkan maka tunggulah saat kehancuran.”Seseorang bertanya:” Bagaimana hilangnya amanat itu?” Rasulullah menjawab:”Apabila suatu persoalan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

      b. Dalil dari sejarah Islam

      Madinah dalah sebuah negara Islam dan merupakan basis Negara Islam baru, yang dipimpin oleh Rasulullah, panglima dan imam umat Islam, sebagaimana beliau juga Nabi mereka dan utusan Allah pada mereka. Tak ada seorang pun yang menedominasi mereka di negara itu kecuali dominasi syar’iyyah.

      c. Dalil dari tabiat Islam

      Karakteristik Islam sebagai sebuah manhaj (system) yang diingingkan agar dominan, memimpin, dan mengarahkan kehidupan, memerintah masyarakat, mengendalikan perjalanan umat manusia sesuai dengan perintah-perintah Allah, tidaklah cukup hanya dengan pidato. Tidak pula cukup hanya membiarkan hukum dan ajaran-ajarannya dalam berbagai aspek kehidupan berada dalam nurani pribadi-pribadi saja. Sebab jika nurani itu telah sakit atau mati, maka akan sakit pulalah segala hukum dan ajaran tersebut. Ustman bin Affan ra berkata:” Allah pasti akan mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan Al Quran”

      Kita memerlukan Negara yang mengasuh Islam

      Kita membutuhkan negara Islam yang menjadikan risalah Islam sebagai aqidah, sistem kehidupan, dan peradaban. Segala aspek kehidupan material dan spiritual, semuanya ditegakkan berlandaskan Islam yang menyeluruh tersebut. Negara ini merupakan kebutuhan Islam dan sekaligus kebutuhan umat manusia. Sebab negara tersebut akan mempersembahkan teladan bagi umat manusia tentang keterpaduan antar agama dan dunia, material dan spiritual, keharmonisan antarkemajuan peradaban dan keluhuran moral.

      Seandainya kita punya pemerintahan

      “Jika umat Islam memiliki sebuah penerimaan yang benar, islami dan imani, mandiri dalam berpikir dan bertindak, mengerti akan keagungan warisan budaya dan sistem Islam yang diwarisinya, yakin akan keampuhan Islam dalam mengatasi problema umatnya dan merupakan petunjuk bagi seluruh ummat manusia, niscaya kita akan menuntut agar dunia mendukungnya atas nama Islam. Menuntut negara-negara lain untuk mempelajari dan mengnalisa ajaran Islam dengan da’wah, pengajaran, dalil-dalil dan utusan yang silih berganti dan cara da’wah lainnya, sehingg anegara kita menjadi pusat spiritual, politik, dan praktek pemerinthan yan adil. Kita yakin bahwa pemerintahan Islam mampu memperbaharui kehidupan bangsanya, memimpin mereka menuju kejayaan dunia seta mengibarkan semangat perjuangan kesungguhan bekerja.

      Islam dan politik

      Dua masalah penting

      1. Adanya perbedaan mencolok antar partai dan politik

      Ada politikus tapi tak berhubungan dengan partai, ada juga prang partai yang tak tahu politik. Adakalanya orang partai adalah politikus dan sebaliknya. Padahal yang dimaksud politik adalah politik secara umum yang berarti memperhatikan keadaan umat, baik internal maupun eksternal, sama sekali tidak terikat oleh satu partai politik.

      2. Non Muslim menyerang Islam karena mereka tidak mengetahui hakekat Islam

      Mereka mengatakan:”Islam berada dalam satu kutub, sementara masyrakat, hukum, masalah-masalah ekonomi dan peradaban berada pada kutub yang lain. Islam harus dicabut dari serabut akar politik.” Padahal sebenarnya Islam adalah aqidah dan ibadah, negara dan kebangsaan, toleransi dan power, akhlaq dan materi, kebudayaan dan perundang-undangan. Seorang muslim dengan status keislamannya dituntut untuk mempedulikan segala persolan umatnya. Karena siapa saja yang mengaku muslim sedang ia tak mau peduli akan urusan Islam, tak termasuk golongan mereka.

      Tanah air dan patriotisme

      Dasar nasionalisme umat Islam adalah adalah Aqidah Islam yang ditolak para da’i Islam adalah fanatisme rasial yang sempit dan berlebihan dalam patriotisme sampai menggantikan agama, sehingga tanah air telah menjadi berhala yang disembah.

      Batas-batas nasionalisme kita

      Setiap jengkal tanah dimana terdapat muslim yang bersemboyan Laailaahaillallah Muhammad Raasulullah adalah tanah air yang harus dicintai dan diperjuangkan

      Tujuan Nasionalisme Kita

      Yang menjadi tujuan Nasionalisme kita adalah mengharap ridha Allah semata, membahagiakan dunia ini dengan Agamanya dan menegakkan perintahNya.

      Persatuan dan Perbedaan Agama

      Islam adalah agama persatuan dan persamaan, telah menjamin keutuhanm ikatan pemersatu antar semua, selam amereka sama-sama bersanding bahu-membahu, bekerja untuk kebajikan. Firman Allah QS 60:8

      Nasionalisme Mesir Menurut Hasan Al Banna

      “Nasionalisme Mesir memiliki kedudkukan yang layak dalam dakwah dakwah kami untuk dibela dan diperjuangkan.

      Ummat dalam Pandangan Islam

      Islam adalah Negara dan Tanah Air, juga pemerintahan dan Ummat. Islam dilahirkan di Jazirah Arab yang tegak di atas landasan landasan sistem kabilah dan fanatisme kabilah. Setelah Islam datang, mereka dipindahkan dari kerangkeng kekabilahan yang sempit ke arena umat yang luas.

      Islam menginginkan agar kaum muslimin berafiliasi kepada kebenaran, bukan kepada si A atau si B. Oleh karena itu, ummat yang akan ditegakkan Islam tidak berdasarkan ikatan rasial, warna kulit, daerah dan kasta tapi ummat aqidah dan ummat risalah. Firman Allah:Q.S. 22:78

      Sifat-s Sifat fundamental ummat menurut Al Qur’an

      1. Rabbbaniyyah

      Ia adalah ummat yang ditumbuhkan oleh wahyu Ilahi, dididik oleh ajaran dan Hukum-hukumya, sampai agamaNya sempurna dan ni’mat Allah kepadanya menjadi lengkap. Firman Allah: QS Al Maidah:3, Al Baqarah:143, Ali Imran:110.

      2. Washathiyah

      Washathiyah adalah keseimbangan dan moderasi yang memebuat jati dirinya menjadi ummat yang berperan sebagai saksi dan mahaguru bagi ummat manusia. Firman Allah Q.S. 2:143.

      3. Da’wah

      Umat Islam adalah umat yang beramar ma’ruf nahi munkar yang disertai dengan Iman kepada Allah SWT sehingga membuatnya unggul di atas ummat lainnya. Firman Allah 3:110,3:104.

      4. Wahdah

      Islam menginginkan ummat ini menjadi ummat yang satu meskipun terdapat banyak perbedaan. Firman Allah Q.S. 21:92, Al Mu’minun:52, 6:53,3:103,3:105, 49:10

      DUA CATATAN PENTING SEKITAR TOTALITAS ISLAM

      1. Totalitas dan unsur-unsur sektoral

      Totalitas Islam yang mencakup syari’ah, akhlaq, etika, perundangan-undangan, muamalah, sistem peradaban dll tidak berarti bahwa Islam telah merinci dengan tuntas segala persoalan sampai yang sekecil-kecilnya. Perhatian Islam hanyalah kepada hal-hal yang umum dan prinsipil, kaidah-kaidah dasar, dan hukum-hukum yang tepat tentang segala masalah yang bersifat baku, meskipun zaman, linhkungan dan kondisinya berbeda.

      5. Totalitas Bukan Berarti Meremehkan tingkatan-tingkatan amal

      Totalitas Islam yang mencakup Aqidah, ibadah, akhlaq, etika, muamalah dan segala macam sistem sosial kemasyarakatan bukanlah berarti bahwa semua aspek tersebut berada pada satu tingkatan. Justru dalam Islam tingkatannya berbeda-beda, ada yang masuk kategori ushul (pokok), furu’(cabang), rukun, pelengkap, fardhu, sunnat, qath’i (pasti), zhonni (tidak pasti), mutlaq ‘alaih (sudah disepakati), mukhtalaffih (masih diperselisihkan), kebutuhan pokok, kurang penting, sangat penting dan ada pula yang bersifat pelengkap sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli ushul fiqh.

      aroma kristenisasi di manokwari

      injil.jpgMeningkatnya ghirah berislam di Indonesia yang ditandai dengan diterbikannya Perda-Perda berbasis Islam seperti di Tangerang, Tasikmalaya, Marisa dan banyak kota/kabupaten di Indonesia ternyata membuat gerah para musuh Allah. Mereka tak mau kalah. Di Manokwari, yang akan dicanangkan sebagai Kota Injil, saat ini sedang disusun rancangan Peraturan Daerah yang berbasis Injil. Terdapat beberapa hal yang dipaksakan dalam raperda tersebut, diantaranya :

      1. Pelarangan pemakaian busana muslimah di tempat-tempat umum

      2. Pembolehan pemasangan simbol-simbol kristen di kantor-kantor dan tempat-tempat umum

      3. Pelarangan membangun masjid di daerah yang sudah ada gereja. Bila akan membangun masjid, harus dengan izin 3 organisasai masyarakat yang anggotanya berjumlah 150 orang.

      Keterlaluan memang. Mereka sendiri yang memulai benih-benih perpecahan. SARA. Makar. Mentang-mentang mayoritas berbuat sewenang-wenang. Ini jelas-jeas melanggar HAM. Melanggar Pancasila dan UUD 1945. Padahal dimanapun meskipun umat muslim mayoritas, hak-hak non-muslim dilindungi.

      Raperda ini telah menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI), Prof Eko Prasojo, misalnya, menilai upaya itu merupakan bentuk pelaksanaan otonomi daerah (Otda) yang kebablasan. ”Perda seperti itu berpotensi menciptakan daerah yang tersekat-sekat berdasarkan agama, budaya atau suku,” katanya kepada Republika, Sabtu (24/3). Fraksi PKS DPR RI malah menilai usulan itu bertentangan dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sementara, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) menilai tak boleh ada Perda yang hanya berlaku untuk satu etnis, agama atau suku tertentu.(ROL, Senin 26/3).

      Jika mereka tetap ngotot untuk mengesahkan perda tersebut, artinya mereka mengajak ‘perang’ umat Islam. Umat Islam yang bagaikan satu tubuh dimanapun berada akan selalu siap membela saudara-saudaranya di Manokwari sana. Bagaimana dengan kita?

      NB :

      Berita selengkapnya dapat Anda baca di http://www.republika.co.id tanggal 23 Maret 2007 dengan judul ‘Pemda Manokwari Godok Raperda Berbasis Injil‘ dan tanggal 26 Maret 2007 dengan judul Raperda Kota Injil, Otda yang Kebablasan’

      Ditulis dalam dakwah. 19 Komentar »
      Ikuti

      Get every new post delivered to your Inbox.